• Tidak Lupa Diri

    Menjadi pemimpin memang mudah, menjadi pemimpin yang tidak lupa diri itu yang ssssuuusssyyyaaahhhh... Saya belum lupa dengan guyonannya Gus Dur tentang seorang pemimpin yang diselamatkan orang desa dari arus sungai yang deras saat melakukan hobby memancing.
    “Terima kasih, sampeyan sudah menyelamatkan nyawa saya. Anda tahu siapa saya? Saya akan memberikan hadiah apapun yang sampeyan minta. Apapun. Name it. Sebutkan saja, jangan ragu. Langsung saya kasih”.
    “Eh... anu pak... gini... saya minta agar Bapak tidak bilang pada siapa-siapa kalau saya yang menyelamatkan Bapak yaaa...?” pintanya gemetaran.
    Berbeda dengan kisah Raja Henry IV, pemimpin yang memiliki reputasi bagus di mata rakyatnya itu suatu hari saat tengah berburu, terpisah dari rombongannya dan tersesat di hutan lebat. Seorang penebang pohon menolongnya dan mengajak bermalam di rumahnya yang sederhana.
    “Apa engkau pernah melihat raja?” tanya Raja Henry IV. Si penolong menggelengkan kepala.
    “Apa engkau mau melihat raja?”. Dia mengangguk pelan.
    “Kalau begitu, besok kita ke istana. Raja tinggal di istana. Bila raja datang, para penjaga dan orang-orang yang berada di situ akan melepaskan topi-topi mereka dan membungkuk memberi penghormatan pada raja.”
    Setelah “menghilang” karena tersesat dan tidak dapat ditemukan para pengawal selama beberapa hari, Raja Henry-pun akhirnya pulang kembali ke istana bersama si penebang pohon. Semua yang hadir mengelu-elukan, membuka topi dan membungkuk memberi penghormatan.
    Si penebang kayu bingung. Teringat uraian Raja Henry sebelumnya, dia bertanya, “Apakah ini istana? Lalu mana rajanya?”
    Raja Henry tersenyum bijak sambil menunjuk si penebang pohon.
    Kalau kita di posisi Raja Henry, gimana yaaa...?
    Satu lagi kisah yang saya sukai adalah kisah Khalifah Umar bin Khattab saat penaklukan Yerusalem. Bersama seorang pelayan, beliau bergantian menaiki unta. Indahnya, saat memasuki gerbang kota, si pelayan yang berada di atas unta, sementara Khalifah menuntun tali kekangnya. Sudah barang tentu masyarakat dan para pembesar yang menyambut mengelu-elukan penunggang unta. Dengan jengah si pelayan berkata bahwa dia bukanlah sang khalifah, Khalifah Umar bin Khattab adalah yang berjalan menuntun tali kekang unta.
    Ternyata memang sebelum berangkat, agar unta tidak kelelahan, Khalifah Umar sendiri yang berkehendak agar mereka secara bergantian menaiki unta. Walau si pelayan tidak mau dan ikhlas berjalan menuntun tali kekang unta, Khalifah menolak.
    Sahabatku sayang, yuk lakukan apa yang pernah diteladani Raja Henry IV dan Khalifah Umar bin Khattab. Bisa khaannnn...?

0 komentar:

Poskan Komentar